HIMA K3 NEWS UPDATE — Pentingnya Eye Wash Station dan Emergency Shower di Industri Kimia

Pekerja yang bekerja di industri kimia dapat saja terkena paparan bahan kimia yang mengenai mata dan bisa menyebabkan cidera mata. 10-15 detik adalah waktu terbaik untuk melakukan pertolongan pertama kepada pekerja yang terkena paparan.

OSHA CFR1910.151 menetapkan bahwa fasilitas yang dapat menyemprotkan air yang baik untuk mata dan badan harus dapat digunakan sewaktu-waktu jika dibutuhkan oleh orang yang terpapar bahan kimia berbahaya.

Di bawah ini terdapat beberapa poin untuk pertimbangan penggunaan Eye Wash Station dan Emergency shower di tempat kerja:
1. Letak: ANSI menetapkan persyaratan bahwa unit Eye Wash Station dan Emergency Shower harus dapat dijangkau dengan waktu tempuh 10 detik atau 10-20 kaki dari lokasi berbahaya yang dapat menimbulkan cedera mata dengan berjalan kaki.

2. Air dapat terpancar setidaknya selama 15 menit saat dioperasikan dapat menyemprotkan air 3 gallon air hangat suam kuku per menit.

3. Fungsi Eye Wash Station dengan bentuk shower dan semprotan lebih baik penggunannya.

4. Harus mudah terlihat dan memilki tanda agar mudah ditemukan jika sewaktu-waktu diperlukan.

5. Unit tidak terhalang benda-benda yang dapat menghalangi atau membatasi jangkauan pekerja yang terpapar bahan kimia berbahaya.

6. Berdekatan dengan pintu darurat, agar evakuasi lebih lanjut mudah dilakukan.

7. Lokasi mimiliki sistem drainase yang baik dan tidak berdekatan dengan peralatan elektronik dan sumber listrik.

Sumber: batavialab.com (PT. Mitra Batavia Semesta)

Salam HIMA K3 STIKes Binawan 2017
?Safety is everyone’s need!?

By | 2017-12-21T20:46:13+00:00 December 21st, 2017|Publications|0 Comments

HIMA K3 NEWS UPDATE — Bahaya Hilang Pendengaran di Balik Volume Suara

Suatu hari Anda bertemu dengan seseorang di sebuah kafe yang saat itu sedang diramaikan oleh penampilan musisi plus obrolan pengunjung lain. Saat bercakap – cakap, tak seperti biasanya, Anda berkali-kali meminta lawan bicara untuk mengulang kata – kata. Sambil mendekatkan telinga, Anda setengak berteriak, “Ha? Apa? Bisa diulangi?” Jika Anda mengalami hal demikian, ada kemungkinan Anda mengidap gangguan kehilangan pendengaran atau dalam dunia medis dikenal sebagai Noise Induced Hearing Loss (NIHL). Kehilangan pendengaran sesungguhnya bukan sesuatu yang menakutkan. Ia juga tak terelakkan selama berjalannya waktu. Dampaknya baru terasa secara berangsur-angsur saat tua nanti. Dalam press release Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada tanggal 27 Februari 2015, disebutkan bahwa kurang lebih 1,1 miliar remaja dan anak muda seluruh dunia beresiko mengalami gangguan kehilangan pendengaran.

Penyebabnya adalah penggunaan perangkat audio pribadi yang tak aman. Penyebab lain adalah paparan suara – suara bising dari lingkungan sekitar, terutama saat sedang berada di bar, arena olahraga, atau konser musik. WHO memandang penting riset tersebut sebab penelitian lain menunjukkan bahwa gangguan kehilangan pendengaran mengandung konsekuensi di kemudian hari, antara lain mengancam kesehatan fisik dan mental hingga merugikan pendidikan dan pekerjaan si penderita. Data WHO didapat dari studi di negara – negara berpenghasilan menengah hingga yang tinggi, melibatkan sejumlah kalangan remaja dan pra-dewasa berusia 12-35 tahun. Hasil temuannya yakni 50% responden terbiasa dengan penggunaan perangkat audio pribadi dalam volume yang tak aman / terlalu keras. 40% lain berada di lingkungan yang memproduksi suara bising (dalam volume yang tak aman juga). Sedangkan sisanya akibat factor – faktor lain. “Anak – anak muda itu terlanjur menikmati apa yang biasa didengarkan dalam volume suara yang melampaui batas aman. Makin banyak generasi muda hari ini yang sesungguhnya sedang menempatkan diri mereka dalam resiko terkena gangguan kehilangan pendengaran,” kata Dr Erienne Krug, direktur WHO untuk Department for Management of Noncommunicable Diseases, Disability, Violence and Injury Prevention.

–Batas Aman Suara
Intensitas suara bisa diukur dengan satuan desibel atau biasa disingkat menjadi dB. Berapa dB batas aman suara yang bisa diterima telinga manusia dan tak beresiko menimbulkan gangguan pendengaran? Badan keselamatan kerja Amerika Serikat, National Institute for Occupational Safety and Health (NIOS) dan Occupational Safety and Health Association (OSHA), menerapkan batas aman paparan suara di level 85 dB. Batas aman tersebut juga diambil sebagai standar WHO. Sedangkan National Institute on Deafness and Other Communication Disorders (NIDCD) AS mengambil standar yang lebih rendah yakni 75 dB atau kurang. Pelanggaran batas aman yakni jika berada di level 85 dB atau lebih. Prinsipnya, resiko gangguan kehilangan suara akan terjadi lebih cepat jika pelanggaran batas aman itu dilakukan dalam jangka waktu yang lama dan terus-menerus. Sebagai kompromi, batas aman suara bisa ditetapkan di level 80 dB. Untuk perbandingannya, 85 dB adalah suara kemacetan dan lalu lintas saat kita berada di dalam mobil. Saat bercakap-cakap normal, suara yang dihasilkan kurang lebih 60-65 dB. Sedangkan yang lebih rendah lagi contohnya suara mesin lemari es yang sedang bekerja, yakni berkisar di level 45 dB.
Jenis suara yang melebihi ambang batas dan meningkatkan resiko gangguan kehilangan pendengaran antara lain suara sepeda motor dari jarak dekat yang mencapai 95-100 dB. Suara adegan-adegan berbahaya di film aksi saat diputar di bioskop bisa mencapai 100 dB atau lebih. Sedangkan untuk volume MP3 maksimal yang biasa didengarkan lewat heaphone mencapai 103 dB. Jenis paparan suara yang sering muncul di lingkungan sekitar tempat tinggal kita antara lain klakson mobil yakni mencapai 110 dB, serupa level kebisingan di kelab malam. Suara gergaji mesin bisa mencapai 115-120 dB. Suara sirene ambulan atau mobil polisi setara dengan suara konser rock yaitu 120 dB. Suara petasan atau letusan senjata api bisa mencapai 150 dB. Suara ledakan bom tentu bisa berlipat – lipat lebih tinggi lagi. Cukup satu kali mendengar dari jarak dekat sudah mampu menyebabkan seseorang terkena gangguan kehilangan pendengaran.

–Tak Akan Kembali Lagi
Mendengarkan musik lewat headphone memang pilihan tepat untuk kualitas suara yang terbaik sekaligus tak mengganggu tetanggga. Kebiasaan ini akhirnya dipillih banyak orang mulai dari pekerja kantoran hingga musisi. Namun, menurut penelitian University of Leicester, mendengar musik lewat headphone yang dapat dipacu hingga 120 dB adalah kebiasaan yang sangat amat berbahaya. Untuk level 110 dB saja, kebiasaan itu dapat “mencerabut selubung myelin dari sel-sel saraf, sehingga menghalangi pengiriman sinyal listrik dari telinga ke otak”. Persoalannya, sekali seseorang menderita gangguan kehilangan suara, ia tak akan mendengar frekuensi suara yang sama lagi. Dengan kata lain, gangguan kehilangan pendengaran sifatnya permanen. “Mereka (orang-orang yang sengaja memapar telinganya dengan suara melebihi ambang batas) seharusnya lebih waspada, sekali Anda kehilangan pendengaran, ia tak akan kembali lagi.” tegas Dr. Etienne Krug. Satu-satunya cara menghindarkan diri dari gangguan kehilangan pendengaran, menurut Dr. Krug, adalah dengan menerapkan cara-cara preventif alias pencegahan.

Misal, pakailah penutup telinga saat pergi ke konser musik (terutama rock atau metal). Anda harus bersiap saat kondisi memaksa Anda berada tepat di depan pengeras suara. Jika terlanjur tak membawa penutup telinga dan suara di sekitar terlalu bising, National Health Service (NHS) Inggris menyarankan Anda untuk tak terus-menerus di tempat tersebut. Beristirahatlah barang 10 menit di tempat yang sunyi sebelum kembali lagi ke area penonton. Cara termudah bagi yang sudah kecanduan memakai headphone saat mendengar musik atau menonton film adalah dengan mengurangi volumenya secara berangsur-angsur. Usahakan untuk tak berada di tempat yang bising dan membuat Anda terpaksa menaikkan volume. NHS mencanangkan rumus 60:60 yakni batas maksimal volume berada di level 60 % dan jangan mendengarkan musik secara terus-menerus selama lebih dari 60 menit.

Untuk para pekerja, WHO memberi rekomendasi bahwa tingkat kebisingan yang diperbolehkan ada di tempat kerja maksimal 85 dB dan tak boleh terpapar selama lebih dari 8 jam. Untuk arena olahraga, atau tempat kerja dengan volume suara tinggi yang tak bisa dihindari, para pekerja mesti pintar mengatur waktu. Paparan kebisingan di atas level 100 dB masih aman jika tak lebih dari 15 menit. Artinya, perlu ada jeda tiap 15 menit untuk beralih ke tempat dengan volume suara aman, atau lebih baik lagi, yang sunyi. Memang perlu usaha yang konsisten dan pengorbanan lebih. Namun, pakar kesehatan telinga selalu menekankan bahwa usaha-usaha preventif tersebut adalah investasi masa depan yang menguntungkan bagi karier hingga hubungan sosial. Menyayangi telinga adalah usaha menikmati suara-suara indah di dunia hingga usia tua.

Sumber :
https://tirto.id/bahaya-hilang-pendengaran-di-balik-volume-…

By | 2018-01-04T16:28:26+00:00 December 15th, 2017|Publications|0 Comments

HIMA K3 RESEARCH — Pelaporan PAK di Tempat Kerja

Pekerja adalah sesorang yang terikat terhadap suatu perusahaan dalam suatu jangka waktu, bisa dalam jangka waktu panjang maupun pendek. Mereka yang menjadi pekerja diwajibkan untuk melakukan segala sesuatu pekerjaan yang berhubungan dengan perusahaan.  Namun,dalam melakukan segala pekerjaan tersebut, ada hal yang harus diketahui bahawa pekerja tidak terlepas dari segala masalah yang ada di di lingkungan perusahaan. Pekerja dapat menghadapi masalah yang terkait dengan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Masalah tersebut dapat berupa Kecelakaan Akibat Kerja (KAK) atau Penyakit Akibat Kerja (PAK).

Kecelakaan Akibat Kerja (KAK) dan Penyakit Akibat Kerja (PAK) adalah dua hal yang berbeda. Seorang pekerja yang mengalami kecelakaan akibat kerja dapat terlihat dengan jelas bukti terjadinya kecelakaan tersebut dan juga mengakibatkan luka fisik, namun penyakit akibat kerja tidaklah terliihat jelas. Pekerja yang mengalami penyakit akibat kerja akan merasakan masalah kesehatan akibat pekerjaan dan lingkungan kerja setelah jangka waktu panjang ataupun terkadang pekerja sering mengabaikannya sehingga tidak terlihat pekerja mengalami penyakit akibat kerja.

Berdasarkan hasil laporan pelaksanaan kesehatan kerja di 26 Provinsi di Indonesia tahun 2013, jumlah kasus penyakit umum pada pekerja ada sekitar 2.998.766  kasus, dan jumlah kasus penyakit yang berkaitan dengan pekerjaan berjumlah 428.844  kasus. Dari data tersebut, rendahnya jumlah kasus terkait kerja yang relatif rendah tidak menggambarkan keadaan sesungguhnya keadaan pekerja yang sebenarnya mengalami penyakit akibat kerja tapi lebih pada tidak terdeteksi dan terdiagnosisnya masalah penyakit akibat kerja.

Masalah yang menentukan tidak terlapornya masalah penyakit akibat kerja adalah terkait penentuan diagnosis penyakit akibat kerja oleh dokter yang  belum dihubungkan dengan pekerjaan atau dengan lingkungan pekerjaan sehingga penegakkan diagnosis penyakit akibat kerja (PAK) dirasakan sangat minim. Jamsostek melaporkan tiap tahun terjadi 90 ribu sampai 130 ribu kecelakaan kerja, tetapi hampir tidak ada laporan mengenai penyakit akibat kerja, hal ini karena kurangnya pengetahuan dokter untuk menegakkan diagnosis PAK.

Masalah tersebut tidak hanya terkait oleh karena kurangnya pengetahuan diagnosis penyakit akibat kerja yang dilakukan oleh dokter namun juga terkait oleh karena kurangnya pengetahuan pekerja akan penyakit akibat kerja dan kurangnya kepeduliaan manajemen akan kesehatan pekerja di tempat kerja. Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER-01/MEN/1981 dan Keputusan Presiden RI No 22/1993 terdapat 31 jenis penyakit akibat kerja. Penyakit akibat kerja tersebut dapat ditentukan di tempat kerja dengan cara melakukan penegakkan diagnosis yang dilakukan oleh ahli K3 bersama dokter perusahaan. Secara teknis, penegakan diagnosis:

  1. Tentukan diagnosis klinis
  2. Tentukan pajanana terhadap fakor resiko.
  3. Membandingkan gejala penyakit sewaktu bekerja dan dalam keadaan tidak bekerja.
  4. Melakukan pemeriksaan fisik.
  5. Melakukan pemeriksaan laboratoriuk khusus atau pemeriksaan biomedis.
  6. Melakukan pemeriksaan atau pengujian lingkungan atau data hygiene perusahaan.
  7. Konsultasi kepada ahli medis dan keahlian lain.

Pelaporan penyakit akibat kerja sangat penting untuk dilakukan di tempat kerja. Rendahnya data pelaporan mengenai penyakit akibat kerja tidak bisa mengambarkan kesehatan pekerja di tempat kerja. Buruknya pelaporan tersebut, dapat mengakibatkan efek yang buruk tidak hanya bagi pekerja terhadap jaminan kesehatan bagi pekerja dan juga terhadap penurunan produktivitas kerja yang berdampak pada perusahaan.

Referensi:

  1. Kementerian Kesehatan RI ( direktorat kesehatan kerja dan olahraga). Pelatihan diagnosis akibat kerja.
  2. Republik Indonesia. Keputusan Presiden No. 22 Tahun 1993 tentang Penyakit yang Timbul Karena Hubungan Kerja. Presiden Republik Indonesia: Jakarta; 1993.
  3. Liza Salawati. 2015. Penyakit Akibat Kerja dan Pencegahan. Jakarta: Jurnal Kedokteran Syiah Kuala. Vol. 15, No.2: 92-94.

Salam HIMA K3 STIKes Binawan 2017
?Safety is everyone’s need!?

By | 2018-01-04T16:29:22+00:00 December 5th, 2017|Publications|0 Comments